Kini saya semakin tersadar, bahwa potensi diri dimulai dengan perasaan sukacita.
Ini adalah trik "lama" tapi "baru"... mengapa lama? kita sudah banyak mendengar bahwa orang yang menekuni kesenangannya, hobinya, akan lebih cepat berkembang ketimbang mereka yang mengerjakan dengan keterpaksaan.
Sementara, orang ketika menjalankan sesuatu dengan hobinya, perasaan "menikmati", senang, bahagia bercampur satu padu mendorong terjadinya kegiatan.
Dengan sukacita, kita menerima anugerah. Dengan kegembiraan kita siap menerima masukan-masukan baru. Dengan positivisme kita siap mendorong ke arah perubahan dan melatih otak kiri kita untuk senantiasa berinovasi, berinteraksi dan bersikap kreatif menghadapi perubahan yang ada saat ini...
Mari syukuri kehidupan ini dengan bersuka cita...
protection your life
Tabungan proteksi yang bersolusi cerdas
+62 813 95 45 6880
lagerfeldt@gmail.com
Minggu, 09 Desember 2012
Sabtu, 08 Desember 2012
Lagi, Ujian Kesabaran
Setelah melepas penat seharian, tiduran di rumah, tiba saatnya bergerak. Dengan agak terkantuk-kantuk karena masih ingin istirahat kuberanikan diri melangkahkan kaki untuk ketemu orang dan bersosialisasi.
Kepenatan itu bukan hanya di fisik, tapi juga mental. Kadang ingat orang tua yang kadang sulit diberi tahu dan tidak memikirkan anak-anaknya yang turut memikirkan ke 'bandelan' mereka.
Penat dengan itu semua, tapi bagaimanapun saya harus melaluinya dengan sepenuh hati.
Disinilah ketika terjadi kelelahan dan down sesaat menghadapi kenyataan hidup yang penuh dengan "kebandelan kebandelan" dan hal hal menjengkelkan lainnya, harus ditepis dengan tekad untuk mengembangkan diri, tetap berpikiran positif.
Saya tetap berdoa, mengembalikan pikiran-pikiran negatif dan menghimpun kekuatan positif untuk melangkah ke depan...
Go success...
Kepenatan itu bukan hanya di fisik, tapi juga mental. Kadang ingat orang tua yang kadang sulit diberi tahu dan tidak memikirkan anak-anaknya yang turut memikirkan ke 'bandelan' mereka.
Penat dengan itu semua, tapi bagaimanapun saya harus melaluinya dengan sepenuh hati.
Disinilah ketika terjadi kelelahan dan down sesaat menghadapi kenyataan hidup yang penuh dengan "kebandelan kebandelan" dan hal hal menjengkelkan lainnya, harus ditepis dengan tekad untuk mengembangkan diri, tetap berpikiran positif.
Saya tetap berdoa, mengembalikan pikiran-pikiran negatif dan menghimpun kekuatan positif untuk melangkah ke depan...
Go success...
protecting your life
menabunglah di TAPRO
solusi cerdas menabung
lagerfeldt@gmail.com
+62 813 95 45 6880
Rabu, 05 Desember 2012
Dalam Keberanian mengandung apa ya?
Saya ingat pengalaman ketika bermimpi. Ingin ke Amerika Serikat! waktu itu saya surprised juga menerima undangan hadir dari PBB untuk melakukan dialog di markas besar dengan para pemuka di bidang nya masing-masing.
Kebetulan saat itu saya mengurusi kerjasama antara masyarakat sipil, dan sharing informasi antar teman-teman yang merasa cukup bergolak /upheaval juga menerima tantangan itu.
Dengan bermodalkan tekad karena visa amerika saya habis, saya memberanikan diri utk memproses keberangkatan hanya bermodal nekad. Sekali lagi nekad.
Kenapa?
Saya tahu tahun 2005 adalah hangat-hangatnya isu terorisme di negara kita. Indonesia. Isu tersebut berimbas pada negara dan para penduduk kita setiap akan berangkat ke Amerika Serikat.Dicurigai.
Bisa dibayangkan, kenekadan saya, yang hanya punya waktu 2 minggu untuk mengurus visa, masih juga nekad dengan senekad nekadnya mengurusi izin keberangkatan dan kedatangan hanya semata-mata semangat berjuang, merasa sayang undangan yang telah diberikan tidak dimanfaatkan seoptimum mungkin bahkan telah disediakan fasilitas tiket.
Dengan langkah gontai, saya sadar ketika mulai mengurus visa pasti akan banyak hambatannya. Belum daftar. Belum antrian yang katanya bisa sampai 2 bulan. belum interview. belum lagi bayaran dan segala macam ketakutan dan kekhawatiran yang orang biasa saja akan langsung hopeless..
Tapi kenekadan saya mengalahkan segalanya. Maju ke pintu gerbang kedutaan dengan deg degan. Memohon untuk segera diinterview karena harus segera berangkat dan melukiskan pada petugas penjaga bahwa ini adalah hal urgent yang harus segera diselesaikan.
Pada waktu maju ke pintu gerbang, sudah deg degan sempat dimarahi dan 'agak nangis nangis' juga saya ke petugas untuk menerangkan urgensinya. Saya tahu bahwa upaya tersebut percuma tapi saya nekad dengan keberanian membara untuk menyampaikan.. Yang penting saya melakukan terserah nanti hasilnya seperti apa.."Iya nanti saya kabarin bahwa bapak akan segera diinterview keesokan paginya,".. ujar petugas keamanan dengan kasarnya.
Setelah pengajuan tahap paling awal yaitu minta nomer utk bisa diinterview.. dengan langkah tergopoh gopoh saya kembali ke rumah dengan sebelumnya singgah di rumah kawan. Saya ceritakan keresahan saya dan hopeless saya tapi harapan itu masih tetap ada walau istilahnya cenat cenut...dan bikin pusing tapi satu keajaiban tiba tiba di sore hari telepon berdering.."Iya anda besok bisa masukkin aplikasi dan diinterview," ujar seseorang di seberang sana.
Saya surprise. Wah, pusing-pusing begini kok bisa ya. Padahal kawan-kawan lain yang mengajukan interview pasti mereka harus menunggu 2 bulan untuk maju selanjutnya.
-----
Keesokan harinya saya memenuhi undangan untuk diinterview tersebut. Oh iya, ada kejadian sebelumnya yang cukup mengenaskan. Malam sebelum kejadian interview saya pulang ke rumah dan ketika menjelang sampai ke rumah kendaraan saya mengalami kenaikan temperatur. Ya ampun... apa lagi cobaan Allah.
Minggir sebentar ketika saya buka mesin, tanpa pikir panjang kubuka tutup radiator dalam keadaan panas.. langsung saja air panas muncrat ke mukaku... dalam keadaan kesakitan, ada seseorang yang melihat kejadian ini dan segera berteriak "tolong tuh kasih air kopi mukanya biar ngga sakit..." dan untungnya saya bawa cream yang secara darurat bisa dioleskan ke wajah yang dalam keadaan kesakitan.." ya Allah saya keesokan harinya harus interview.
Setelah kejadian itu, sepanjang malam muka saya yang terkena semprotan air panas kesakitan. Saya bersyukur bahwa pada saat kejadian itu ada orang yg masih peduli utk memberi baluran kopi dan kebetulan satpam dekat tempat kejadian punya kopi yang diminta.. Ya Allah ini salah satu kebesaranmu juga... Tapi pikiran juga terfokus bahwa keesokan harinya harus segera memasukkan berkas dan siap siap diwawancara.
Dalam keadaan perih mukaku karena kena semprot air radiator, keesokan harinya saya melangkahkan kaki ke kedutaan untuk siap-siap melakukan wawancara. Wah ternyata masuk ke kedutaan harus bayar dulu, kemudian menunggu sesaat kelengkapan berkas dan menanti keputusan selanjutnya.
Ternyata saya tidak diwawancara pada saat itu. Pada hari berikutnya saya harus bersiap karena hasil penelusuran kelengkapan dokumen memberikan indikasi bahwa saya bisa masuk jadwal wawancara keesokan harinya.
Saya merasa bersyukur walau step wawancara yang menentukan itu masih harus dilakukan. Dalam keadaan perih masih terus saya jalankan. Juga tidak lupa saya berkoordinasi dengan Badan PBB Indonesia terkait perizinan dan surat sponsor yang menerangkan bahwa kehadiranku di Amerika Serikat adalah karena tugas yang penting.
----
Keesokan hari yg mendebarkan, saya datang kembali untuk wawancara dengan salah satu petugas kedutaan. Wawancara berjalan lancar karena saya sudah akan mendapatkan visa yang ke dua kalinya dan saya rasa tidak ada masalah dengan negara tersebut.
Selesai diwawancara "sorry, your files have to go through a clearance in Washington DC which take around 2-3 weeks after this."...
Saya langsung lunglai... bagaimana bisa, tiket sudah ditangan.. segala sesuatu sudah siap tinggal approval visa saya harus missed dengan kesempatan ini?
Pusiiing sepanjang hari namun pikiran tetap berputar-putar untuk cari solusi. Saya kembali ke kantor dengan lunglai... sempat menceritakan obstacles ini pada kawan sejawat dengan saran yang bilang "yah.. mau gimana lagi.. yang penting sabar..."
Dalam keadaan hampir putus asa.. lunglai... saya sempat terpikir untuk coba menghubungi councellor per email dan memperkuat posisi saya dengan meminta rekomendasi dari pihak PBB Indonesia dengna menggunakan kekuatan permanent resident nya yang punya hubungan baik dengan kedutaan.
Tapi ini lho kok bisa bisa nya ada ide menghubungi councellor.. yang dengan nekadnya saya lakukan. Saya coba browse alamat, walau tidak secara jelas mendapatkan alamat yang dituju, tapi saya tahu nama orang itu dan alamat email kedutaan sudah ada pola nya. Saya coba menggunakan pola email itu dan menyampaikan segala concern saya dengan bukti-bukti terkait bahwa kedatangan saya di Amerika Serikat akan sangat penting dan urgensinya top diantara yang TOP.
Saya menyampaikannya dengan penuh tawakal, ditambah pusing pusing... dan otak tuh teruuuus menerus muter sepanjang hari .. juga muncul antara penyesalan dan optimis tapi lebih sering pesimisnya.. seribu kata pikiran penuh penyesalan memenuhi benakku karena tinggal satu step saja saya agar bisa berangkat ke Amerika Serikat.. yang ternyata it's a big CHALLENGE... OBSTABLES AND Challenges adalah BEDA TIPIS...
Akhirnys setelah pusing-pusing dan otak berputar kesana kemari sampai ada rasa penyesalan segala, saya keesokan harinya mendapat email melegakan.. "You can come on Friday to pick up your visa".. wow...
LUAR BIASA...
ternyata keyakinan, kerja keras, keinginan kuat dan terus menerus bertindak tanpa memikirkan apa hasilnya, yang PENTING USAHA.. ternyat berhasil...
Ini miracle sebenarnya....THIS IS MIRACLE among MIRACLES...
Kebetulan saat itu saya mengurusi kerjasama antara masyarakat sipil, dan sharing informasi antar teman-teman yang merasa cukup bergolak /upheaval juga menerima tantangan itu.
Dengan bermodalkan tekad karena visa amerika saya habis, saya memberanikan diri utk memproses keberangkatan hanya bermodal nekad. Sekali lagi nekad.
Kenapa?
Saya tahu tahun 2005 adalah hangat-hangatnya isu terorisme di negara kita. Indonesia. Isu tersebut berimbas pada negara dan para penduduk kita setiap akan berangkat ke Amerika Serikat.Dicurigai.
Bisa dibayangkan, kenekadan saya, yang hanya punya waktu 2 minggu untuk mengurus visa, masih juga nekad dengan senekad nekadnya mengurusi izin keberangkatan dan kedatangan hanya semata-mata semangat berjuang, merasa sayang undangan yang telah diberikan tidak dimanfaatkan seoptimum mungkin bahkan telah disediakan fasilitas tiket.
Dengan langkah gontai, saya sadar ketika mulai mengurus visa pasti akan banyak hambatannya. Belum daftar. Belum antrian yang katanya bisa sampai 2 bulan. belum interview. belum lagi bayaran dan segala macam ketakutan dan kekhawatiran yang orang biasa saja akan langsung hopeless..
Tapi kenekadan saya mengalahkan segalanya. Maju ke pintu gerbang kedutaan dengan deg degan. Memohon untuk segera diinterview karena harus segera berangkat dan melukiskan pada petugas penjaga bahwa ini adalah hal urgent yang harus segera diselesaikan.
Pada waktu maju ke pintu gerbang, sudah deg degan sempat dimarahi dan 'agak nangis nangis' juga saya ke petugas untuk menerangkan urgensinya. Saya tahu bahwa upaya tersebut percuma tapi saya nekad dengan keberanian membara untuk menyampaikan.. Yang penting saya melakukan terserah nanti hasilnya seperti apa.."Iya nanti saya kabarin bahwa bapak akan segera diinterview keesokan paginya,".. ujar petugas keamanan dengan kasarnya.
Setelah pengajuan tahap paling awal yaitu minta nomer utk bisa diinterview.. dengan langkah tergopoh gopoh saya kembali ke rumah dengan sebelumnya singgah di rumah kawan. Saya ceritakan keresahan saya dan hopeless saya tapi harapan itu masih tetap ada walau istilahnya cenat cenut...dan bikin pusing tapi satu keajaiban tiba tiba di sore hari telepon berdering.."Iya anda besok bisa masukkin aplikasi dan diinterview," ujar seseorang di seberang sana.
Saya surprise. Wah, pusing-pusing begini kok bisa ya. Padahal kawan-kawan lain yang mengajukan interview pasti mereka harus menunggu 2 bulan untuk maju selanjutnya.
-----
Keesokan harinya saya memenuhi undangan untuk diinterview tersebut. Oh iya, ada kejadian sebelumnya yang cukup mengenaskan. Malam sebelum kejadian interview saya pulang ke rumah dan ketika menjelang sampai ke rumah kendaraan saya mengalami kenaikan temperatur. Ya ampun... apa lagi cobaan Allah.
Minggir sebentar ketika saya buka mesin, tanpa pikir panjang kubuka tutup radiator dalam keadaan panas.. langsung saja air panas muncrat ke mukaku... dalam keadaan kesakitan, ada seseorang yang melihat kejadian ini dan segera berteriak "tolong tuh kasih air kopi mukanya biar ngga sakit..." dan untungnya saya bawa cream yang secara darurat bisa dioleskan ke wajah yang dalam keadaan kesakitan.." ya Allah saya keesokan harinya harus interview.
Setelah kejadian itu, sepanjang malam muka saya yang terkena semprotan air panas kesakitan. Saya bersyukur bahwa pada saat kejadian itu ada orang yg masih peduli utk memberi baluran kopi dan kebetulan satpam dekat tempat kejadian punya kopi yang diminta.. Ya Allah ini salah satu kebesaranmu juga... Tapi pikiran juga terfokus bahwa keesokan harinya harus segera memasukkan berkas dan siap siap diwawancara.
Dalam keadaan perih mukaku karena kena semprot air radiator, keesokan harinya saya melangkahkan kaki ke kedutaan untuk siap-siap melakukan wawancara. Wah ternyata masuk ke kedutaan harus bayar dulu, kemudian menunggu sesaat kelengkapan berkas dan menanti keputusan selanjutnya.
Ternyata saya tidak diwawancara pada saat itu. Pada hari berikutnya saya harus bersiap karena hasil penelusuran kelengkapan dokumen memberikan indikasi bahwa saya bisa masuk jadwal wawancara keesokan harinya.
Saya merasa bersyukur walau step wawancara yang menentukan itu masih harus dilakukan. Dalam keadaan perih masih terus saya jalankan. Juga tidak lupa saya berkoordinasi dengan Badan PBB Indonesia terkait perizinan dan surat sponsor yang menerangkan bahwa kehadiranku di Amerika Serikat adalah karena tugas yang penting.
----
Keesokan hari yg mendebarkan, saya datang kembali untuk wawancara dengan salah satu petugas kedutaan. Wawancara berjalan lancar karena saya sudah akan mendapatkan visa yang ke dua kalinya dan saya rasa tidak ada masalah dengan negara tersebut.
Selesai diwawancara "sorry, your files have to go through a clearance in Washington DC which take around 2-3 weeks after this."...
Saya langsung lunglai... bagaimana bisa, tiket sudah ditangan.. segala sesuatu sudah siap tinggal approval visa saya harus missed dengan kesempatan ini?
Pusiiing sepanjang hari namun pikiran tetap berputar-putar untuk cari solusi. Saya kembali ke kantor dengan lunglai... sempat menceritakan obstacles ini pada kawan sejawat dengan saran yang bilang "yah.. mau gimana lagi.. yang penting sabar..."
Dalam keadaan hampir putus asa.. lunglai... saya sempat terpikir untuk coba menghubungi councellor per email dan memperkuat posisi saya dengan meminta rekomendasi dari pihak PBB Indonesia dengna menggunakan kekuatan permanent resident nya yang punya hubungan baik dengan kedutaan.
Tapi ini lho kok bisa bisa nya ada ide menghubungi councellor.. yang dengan nekadnya saya lakukan. Saya coba browse alamat, walau tidak secara jelas mendapatkan alamat yang dituju, tapi saya tahu nama orang itu dan alamat email kedutaan sudah ada pola nya. Saya coba menggunakan pola email itu dan menyampaikan segala concern saya dengan bukti-bukti terkait bahwa kedatangan saya di Amerika Serikat akan sangat penting dan urgensinya top diantara yang TOP.
Saya menyampaikannya dengan penuh tawakal, ditambah pusing pusing... dan otak tuh teruuuus menerus muter sepanjang hari .. juga muncul antara penyesalan dan optimis tapi lebih sering pesimisnya.. seribu kata pikiran penuh penyesalan memenuhi benakku karena tinggal satu step saja saya agar bisa berangkat ke Amerika Serikat.. yang ternyata it's a big CHALLENGE... OBSTABLES AND Challenges adalah BEDA TIPIS...
Akhirnys setelah pusing-pusing dan otak berputar kesana kemari sampai ada rasa penyesalan segala, saya keesokan harinya mendapat email melegakan.. "You can come on Friday to pick up your visa".. wow...
LUAR BIASA...
ternyata keyakinan, kerja keras, keinginan kuat dan terus menerus bertindak tanpa memikirkan apa hasilnya, yang PENTING USAHA.. ternyat berhasil...
Ini miracle sebenarnya....THIS IS MIRACLE among MIRACLES...
Selasa, 04 Desember 2012
Meraih impian
Hari ini saya mendapat curahan hati dari seorang kawan yang merasa sendiri. Menurutnya, banyak kejadian yang dihadapi, dan tampaknya dia senantiasa menjadi korban.
"Mungkin kamu terlalu jujur," ujar saya
"Iya, kemungkinan besar ada. Karena saya jadi merasa dimanfaatkan. Sementara orang lain bisa sedikit merubah cerita untuk menyelamatkan dirinya, saya bertindak seadanya,".. dan akhirnya kita sepakat memang kawanku itu terlalu seadanya.
Terlalu seadanya memang cenderung dimanfaatkan oleh banyak pihak. Kejujuran yang didedikasikan sebagai bahan dan landasan hidup ternyata tidak bisa begitu saja diaplikasikan di dunia yang penuh dengan kepura-puraan ini.
Satu hal, bagi mereka yang menjaga kejernihan hati dan kelapangan jiwa, tetap menjaga semangat menjadi diri sendiri dan mengedepankan ketulusan hati dan keikhlasan budi walau pahit rasanya.
Semoga kita semua mendapat kekuatan untuk itu semua...
"Mungkin kamu terlalu jujur," ujar saya
"Iya, kemungkinan besar ada. Karena saya jadi merasa dimanfaatkan. Sementara orang lain bisa sedikit merubah cerita untuk menyelamatkan dirinya, saya bertindak seadanya,".. dan akhirnya kita sepakat memang kawanku itu terlalu seadanya.
Terlalu seadanya memang cenderung dimanfaatkan oleh banyak pihak. Kejujuran yang didedikasikan sebagai bahan dan landasan hidup ternyata tidak bisa begitu saja diaplikasikan di dunia yang penuh dengan kepura-puraan ini.
Satu hal, bagi mereka yang menjaga kejernihan hati dan kelapangan jiwa, tetap menjaga semangat menjadi diri sendiri dan mengedepankan ketulusan hati dan keikhlasan budi walau pahit rasanya.
Semoga kita semua mendapat kekuatan untuk itu semua...
protecting your life
menabung dengan bijak dan cerdas
+62 813 95 45 6880
lagerfeldt@gmail.com
Senin, 03 Desember 2012
Banyak berbuat
Pilih mana...
- Want it happened
- Wish it happened
- Make it happened
Orang-orang di Indonesia banyak yang baru sampai taraf "want it happened'... sementara attitude, perilaku berbeda harus nyata disandang utk membuat sesuatu itu terjadi "make it happened"...
Sudahkah kita konsisten untuk "make it happened?"
.protecting your life
smart with Tabungan proteksi
lagerfeldt@gmail.com
+62 813 95 45 6880
Memperkuat keyakinan
Setidaknya upaya memperkuat keyakinan terhadap usaha yang sedang dijalani mulai bertambah hari ini. Pelajaran paling penting adalah mewujudkan cita-cita dengan jalan apapun sepanjang itu diridhoi Yang di Atas adalah sah adanya.
Pelajaran pertama yang akan terngiang di hati ini adalah untuk merencanakan dan mengasah rencana tersebut agar menjadi kenyataan. Kadang kita tidak menduga kekuatan perencanaan harus disertai kekuatan untuk mewujudkannya.
Ada moto yang senantiasa terngiang bahkan akan melandasi keyakinan ini:
"jangan pikirkan.. tapi lakukanlah ... maka anda akan merasakan dahsyatnya hasil akibat dari apa yang kita lakukan."
Dalam arti harfiahnya, ngga usah lah kebanyakan teori ini itu. Lakukan apa yang bisa kita laksanakan sekarang dan berbuatlah sesuatu yang lebih baik...
Dalam hal bisnis, maupun aktivitas yang sedang saya lakukan hari ini, menjadi humble, mau kembali ke dasar dan bersosialisasi secara aktif, mendorong service yang lebih baik, lebih baik memberi daripada diberi, berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita adalah bagian dari upaya mencapai tujuan tersebut
Dalam mewujudkan impian, seringkali kita terbentur oleh pikiran-pikiran tidak penting yang menghambat langkah gerak kita. Saya sendiri banyak mengalami kejadian dimana pikiran yang ada pada saya, yang terjadi kenyataannya malah sebaliknya. Dalam hal spirit, keyakinan terhadap apa yang dijalani saat inipun tampaknya kita harus mengalahkan prasangka-prasangka kita, pikiran-pikiran yang menegasikan bahkan mematahkan semangat kita.
Pelajaran pertama yang akan terngiang di hati ini adalah untuk merencanakan dan mengasah rencana tersebut agar menjadi kenyataan. Kadang kita tidak menduga kekuatan perencanaan harus disertai kekuatan untuk mewujudkannya.
Ada moto yang senantiasa terngiang bahkan akan melandasi keyakinan ini:
"jangan pikirkan.. tapi lakukanlah ... maka anda akan merasakan dahsyatnya hasil akibat dari apa yang kita lakukan."
Dalam arti harfiahnya, ngga usah lah kebanyakan teori ini itu. Lakukan apa yang bisa kita laksanakan sekarang dan berbuatlah sesuatu yang lebih baik...
Dalam hal bisnis, maupun aktivitas yang sedang saya lakukan hari ini, menjadi humble, mau kembali ke dasar dan bersosialisasi secara aktif, mendorong service yang lebih baik, lebih baik memberi daripada diberi, berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita adalah bagian dari upaya mencapai tujuan tersebut
Dalam mewujudkan impian, seringkali kita terbentur oleh pikiran-pikiran tidak penting yang menghambat langkah gerak kita. Saya sendiri banyak mengalami kejadian dimana pikiran yang ada pada saya, yang terjadi kenyataannya malah sebaliknya. Dalam hal spirit, keyakinan terhadap apa yang dijalani saat inipun tampaknya kita harus mengalahkan prasangka-prasangka kita, pikiran-pikiran yang menegasikan bahkan mematahkan semangat kita.
protecting your life
Tabungan Proteksi yang SmaRt..
email: lagerfeldt@gmail.com
Cell: +62 813 95 45 6880
Sabtu, 01 Desember 2012
Berpegang teguh
Suatu saat saya mendapat kabar dari seorang kawan yang sudah lelah bekerja menjadi 'bawahan'.
"ingin ada sesuatu yang lain dan bebas dalam berkarya," ujarnya.
Ia ingin mendirikan sebuah firma semacam konsultan yang dia sendiri bisa mengelola waktu tanpa terikat dengan atasan.
"Udah cape dengan hal-hal yang tidak sesuai. Ingin mandiri..." ujarnya.
Keinginan untuk melepaskan diri dari kungkungan rutinitas yang itu-itu saja dan tidak memajukan dan malahan 'memenjarakan' membuatnya memutar otak untuk mendirikan usahanya sendiri.
Saya waktu itu mempersilakan dan mulai menantang "hayo kita mulai dan minggu-minggu ini saya tunggu orderan ya.." ujar saya dengan santai.
Hari demi hari dilalui.. hingga akhirnya sudah lebih 2 bulan.. belum ada kabar lagi tentang rencana usahanya itu.
Sementara saya yang bekerja independen, merasa bahwa membangun suatu kepercayaan, mendorong mekanisme usaha yang pengelolaannya dilakukan mandiri, membangun relasi, membuka akses pada pihak-pihak yang akan mempercayakan pekerjaan ke kita memandang bahwa gagasan apapun juga perlu ada energi.
Ibaratnya, memulai sesuatu yang baru adalah bagaikan lika liku mendirikan reaktor yang nantinya akan bekerja. Untuk membangun reaktor yang dapat dengan sendirinya bekerja perlu waktu, tenaga, pikiran dan dedikasi yang tidak main-main..
Meng establish kan sesuatu yang kemudian akan memiliki sistem administrasi, membangun mekanisme yang akan ter lembagakan karena dikerjakan secara rutin dan terus menerus adalah pekerjaan yang tidak mudah tapi juga bukan berarti sulit...
Memulai usaha baru perlu sesuatu yang lain...sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya...
Tabungan proteksi: Melindungi anda
lagerfeldt@gmail.com
+62 813 95 45 6880
Langganan:
Postingan (Atom)






